Manajemen PemasaranMarketing UpdateStrategi Pemasaran

Gap Generasi Dan Strategi Pemasaran Dalam Menghadapinya

Spread the love

Pada zaman sekarang ketidakselarasan antar generasi banyak terjadi di kehidupan yang telah maju ini, salah satunya adalah pemasaran antar generasi ke generasi. Pemasaran di zaman ini memiliki tantangan agar bisa diterima oleh antar generasi yang berbeda, antara lain : Generasi Baby Boom, Generasi X, Generasi Y, Generasi Z, dan Generasi Alpha. Masing-masing generasi ini memiliki tingkat kemampuan teknologi yang berbeda-beda dan memiliki pemahaman yang berbeda-beda antar satu dengan yang lainnya.

Setiap generasi memiliki lingkungan sosial dan pengalaman hidup yang tentunya relatif berbeda. Misalnya Generasi X, dalam hal budaya mereka dipengaruhi oleh video musik yang di masa itu masih jarang orang menggunakan internet untuk kegiatan sehari-hari, akibatnya mereka lebih menghargai keseimbangan antara kerja dan keluarga dibandingkan generasi lain dan dianggap lebih mandiri serta kreatif. Setiap generasi memiliki sikap yang berbeda terhadap produk dan layanan terhadap suatu bisnis.

Siapakah Lima Generasi Itu ?

Saat ini lima kelompok generasi sedang hidup bersama : Generasi Baby Boom, Generasi X, Generasi Y, Generasi Z, dan Generasi Alpha, setiap pelanggan dari masing-masing generasi memiliki keunikannya sendiri. Memahami pergeseran demografis kolektif di pasar adalah cara paling mendasar untuk memprediksi kemana arah pemasaran yang nantinya akan menjadi tujuan. Premisnya adalah orang yang lahir dan besar dalam periode yang sama akan mengalami peristiwa yang cenderung sama, jadi mereka akan memiliki sosiokultural yang sama dan memiliki rangkaian nilai, sikap, dan perilaku yang serupa.

  1. Generasi Baby Boom

Generasi Baby Boom lahir antara tahun 1946 sampai 1964, remaja di tahun 1960-an atau disebut Boomer awal dibesarkan dalam keluarga yang relatif lebih makmur. Namun, masa remaja mereka dihabiskan dalam ketegangan politik pada masa itu. Akibatnya, mereka sering dikaitkan dengan gerakan tandingan di Amerika Serikat dan negara Barat lainnya. Banyak konsep nonmainstream seperti aktivisme sosial, lingkungan hidup, dan gaya hidup yang nantinya akan muncul pada era ini. Boomer akhir (tidak seperti bomber awal ) dikenal sebegai Generasi Jones yang berada dalam tekanan ekonomi pada masa remaja di tahun 1970-an yang bergejolak.

  1. Generasi X

Generasi X adalah sekelompok orang yang lahir antara tahun 1965 sampai 1980,  kelompok Generasi X mengalami gejolak tahun 1970-an dan ketidakpastian 1980-an selama masa kanak-kanak dan remaja mereka, tetapi mereka memasuki dunia kerja dalam situasi ekonomi yang lebih baik. Mereka berhubungan baik dengan konsep “teman dan keluarga”. Anak-anak Generasi X menghabiskan lebih sedikit waktu dengan keluarga mereka dan lebih banyak berinteraksi dengan teman-teman mereka. Sebagai kelompok anak menengah, Generasi X mengalami pergeseran teknologi konsumen yang besar, yang memengaruhi mereka untuk menjadi sangat mudah beradaptasi. Di masa muda mereka, Generasi X tumbuh dengan menonton video musik di MTV dan mendengarkan mixtape di Walkman mereka. Di masa dewasa, mereka merasakan penggunaan CD dan MP3 serta streaming audio untuk mendengarkan musik.

  1. Generasi Y

Generasi Y lahir antara tahun 1981 sampai 1996  dan saat ini telah menjadi kelompok yang paling dibicarakan dalam beberapa dekade terakhir. Generasi Y adalah anak dari Baby Boomers. Itulah mengapa mereka juga dikenal sebagai generasi Echo Boomer. Secara umum, mereka lebih berpendidikan dan memahami keberagaman budaya dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka juga merupakan generasi pertama yang sangat terkait dengan penggunaan media sosial. Tidak seperti Generasi X, yang pertama kali menggunakan Internet di tempat kerja untuk alasan profesional, Generasi Y belajar tentang Internet pada usia yang jauh lebih muda. Pada awalnya, Generasi Y menggunakan media sosial dan teknologi terkait Internet lainnya untuk tujuan pribadi. Di media sosial, mereka sangat terbuka untuk mengekspresikan diri dan sering membandingkan diri mereka dengan teman sebayanya. Mereka merasa perlu mendapatkan apresiasi dan pujian dari rekan-rekan mereka. Akibatnya, mereka sangat dipengaruhi oleh rekan rekan mereka. Mereka lebih memercayai rekan mereka daripada merk (brand) yang sudah terkenal.

Generasi Y melakukan banyak penelitian dan pembelian online, terutama di ponsel mereka. Tetapi mereka tidak membeli produk sebanyak generasi yang lebih tua karena mereka lebih suka pengalaman daripada kepemilikan. Mereka tidak fokus pada mengumpulkan kekayaan dan aset tetapi pada mengumpulkan kisah hidup dan pengalaman. Karena pendidikan mereka yang lebih tinggi, keragaman, dan paparan konten tanpa batas, Generasi Y lebih berpikiran terbuka dan idealis. Mereka cenderung memadukan kehidupan pribadi dan profesional. Dengan kata lain, mereka hanya menginginkan pekerjaan yang mereka sukai karena itu adalah kepuasan mereka.

  1. Generasi Z

Generasi Z adalah sekelompok orang yang lahir pada tahun 1997 sampai 2009. Terlahir ketika internet sudah menjadi prioritas, orang-orang generasi Z dianggap sebagai digital natives. Karena tidak memiliki pengalaman hidup tanpa internet, mereka memandang teknologi digital sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mereka selalu terhubung ke internet melalui perangkat digital mereka untuk belajar, update berita, belanja, dan jejaring sosial. Mereka mengonsumsi konten secara terus menerus melalui banyak layar, bahkan saat mereka berada dalam situasi sosial. Akibatnya, mereka hampir tidak melihat batas antara dunia online dan offline.

Diberdayakan oleh media sosial, Generasi Z merekam kehidupan sehari-hari mereka di media sosial dalam bentuk foto dan video. Generasi Y bersifat idealis, sedangkan Generasi Z bersifat pragmatis. Generasi Y suka memposting lebih banyak gambar yang dipoles dan difilter dari diri mereka sendiri untuk pencitraan merek pribadi, Generasi Z lebih memilih untuk menggambarkan versi asli dan jujur dari diri mereka sendiri. Oleh karena itu, Generasi Z membenci merek yang menyiarkan citra yang dibuat buat dan terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Karena kesediaan untuk berbagi informasi pribadi di Generasi Z relatif lebih tinggi daripada generasi sebelumnya, mereka ingin merek dapat memberikan konten, penawaran, dan pengalaman pelanggan yang dipersonalisasi. Mereka juga mengharapkan merek memberi mereka kemampuan untuk mengontrol dan menyesuaikan cara mereka mengonsumsi produk atau layanan.

  1. Generasi Alpha

Generasi Alpha terdiri dari mereka yang lahir dari tahun 2010 hingga 2025, yang menjadikan mereka anak-anak abad ke-21 yang paling pertama. Diciptakan oleh Mark McCrindle, nama alfabet Yunani menandakan generasi yang sama sekali baru yang akan dibentuk oleh konvergensi teknologi. Tidak hanya digital natives, mereka juga sangat dipengaruhi oleh perilaku digital orang tua (Generasi Y) dan kakaknya (Generasi Z). Karakter Generasi Alfa sangat banyak dibentuk dan dipengaruhi oleh gaya pengasuhan orang tua Generasi Y mereka. Menikah di usia yang lebih tua, Generasi Y lebih menekankan pada pengasuhan dan pendidikan anak. Mereka juga mengajari anak-anak mereka tentang uang dan keuangan sejak dini.

Gaya belajar mereka lebih langsung dan eksperimental. Mereka sangat nyaman bermain dengan mainan teknologi, perangkat pintar, dan perangkat yang dapat dikenakan. Mereka melihat teknologi tidak hanya sebagai bagian integral dari kehidupan mereka, tetapi juga sebagai perpanjangan dari diri mereka sendiri. Generasi Alpha akan terus tumbuh dengan mengadopsi dan menggunakan teknologi yang meniru manusia seperti kecerdasan buatan, perintah suara, dan robot. Saat ini, Generasi Alpha belum memiliki daya beli yang besar, tetapi mereka sudah memiliki pengaruh yang kuat terhadap pengeluaran orang lain. Penelitian Google / Ipsos mengungkapkan bahwa 74% orang tua Milenial melibatkan anak-anak Generasi Alfa mereka dalam pengambilan keputusan rumah tangga.

Tahapan Kehidupan Lima Generasi

Lima generasi yang saat ini hidup berdampingan membutuhkan analisis tahapan kehidupan yang mereka lalui. Secara umum ada empat tahapan kehidupan dalam perkembangan manusia, yaitu Fundamental, Forefront, Fostering, dan Final. Setiap tahap kehidupan biasanya berlangsung sekitar 20 tahun, dan ketika seseorang tumbuh ke langkah berikutnya, tujuan dan prioritas hidup berubah secara signifikan. Tahap kehidupan pertama adalah tahap Fundamental, di mana fokusnya adalah belajar. Selama 20 tahun pertama kehidupan, seseorang masih mengeksplorasi dan beradaptasi dengan lingkungan. Seseorang belajar pengetahuan dan keterampilan tidak hanya dari pendidikan formal tetapi juga dari persahabatan dan hubungan sosial. Tahap ini juga tentang pencarian baru akan identitas dan alasan keberadaan seseorang. Tahap kedua disebut tahap Forefront. Selama periode 20 tahun kedua, seseorang mulai beralih dari belajar ke bekerja. Mulai mencari nafkah dan membangun karir, seseorang menjadi lebih mandiri. Karena kesehatan berada pada puncaknya selama tahap ini, seseorang lebih bersedia mengambil risiko dan menjelajahi kehidupan sepenuhnya. Seseorang juga mulai berkomitmen pada hubungan romantis selama tahap ini. Memasuki tahap ketiga kehidupan atau tahap Pembinaan, seseorang mulai menetap dan membangun sebuah keluarga. Seseorang cenderung kembali ke gaya hidup yang lebih sehat setelah periode stres yang meningkat selama tahap kehidupan kedua. Lebih banyak waktu juga dihabiskan untuk mengasuh orang lain. Di rumah seseorang berfokus pada kehidupan orang tua dan keluarga sementara di tempat kerja seseorang menekankan pendampingan dan pembinaan generasi yang lebih muda. Berkontribusi kembali ke masyarakat juga menjadi tujuan hidup utama selama tahap kehidupan ini. Pada tahap terakhir, seseorang mencoba beradaptasi dengan usia tua dan tetap bahagia. Periode ini sebagian besar tentang mengelola kesehatan dan hubungan sosial yang menurun. Seseorang berfokus pada menikmati hidup dengan memulai aktivitas yang bermakna dan memuaskan. Penuh dengan refleksi tentang pelajaran hidup, seseorang mulai mengembangkan kebijaksanaan dan bertujuan untuk menyebarkan apa yang telah mereka pelajari kepada generasi yang lebih muda.

Marketing 1.0 : Fokus Pada Produk

Marketing 1.0 atau pemasaran yang berpusat pada produk, yang dimulai di Amerika Serikat pada 1950-an, terutama dikembangkan untuk melayani Generasi Baby Boom yang kaya dan orang tua mereka. Tujuan utamanya adalah untuk menciptakan produk dan layanan yang sempurna yang menghasilkan nilai tertinggi di benak pelanggan. Produk dan layanan pemenang adalah produk dengan fitur lengkap dan keunggulan dibandingkan pesaing. Memiliki manfaat terbaik bagi pelanggan, perusahaan menuntut harga yang lebih tinggi untuk produk dan layanan ini dalam jangka waktu yang lama. Dengan demikian, konsep pemasaran penting yang diciptakan selama era ini difokuskan pada pengembangan produk dan manajemen siklus hidup serta menciptakan produk, harga, tempat, dan promosi yang terbaik. Kepuasan pelanggan menjadi tujuan utama.

Marketing 2.0: Fokus pada Pelanggan

Mengikuti gerakan tandingan dan anti-konsumerisme antara pertengahan 1960-an dan pertengahan 1970-an, pemasaran berkembang menjadi formula yang lebih berpusat pada pelanggan. Itu semakin diperkuat oleh resesi awal 1980-an, yang menyebabkan daya beli konsumen secara signifikan lebih rendah. Berhematnya Generasi Boom dan Generasi X menjadi tantangan utama bagi para pemasar. Dengan demikian, di era Marketing 2.0 saat ini, berpusat pada pemahaman tentang segmentasi, targeting, dan positioning. Perusahaan tidak lagi menciptakan produk dan layanan yang sempurna untuk semua orang. Mereka belajar lebih banyak tentang pasar sasaran mereka dan secara tajam menentukan posisi pasar mereka. Perusahaan menghilangkan lonceng dan peluit dan fokus pada fitur produk tertentu berdasarkan kebutuhan dan keinginan konsumen. Hal tersebut tercermin dari tingkat penetapan harga yang tepat untuk pasar sasaran yang dituju. Perusahaan juga melakukan upaya yang lebih kuat untuk membangun hubungan dengan pelanggan dari waktu ke waktu. Pemasar menerapkan pendekatan manajemen hubungan pelanggan untuk mempertahankan pelanggan dan mencegah mereka beralih ke pesaing. Tujuannya bergeser dari kepuasan pelanggan ke retensi.

Marketing 3.0: Human Centric

Munculnya Generasi Y dan krisis keuangan global pada akhir tahun 2000-an mendorong evolusi pemasaran yang signifikan. Diberdayakan oleh akses informasi yang bebas dan terganggu oleh skandal industri keuangan, Generasi Y memiliki tingkat kepercayaan yang rendah terhadap korporasi dengan motif profit only. Generasi Y menuntut agar perusahaan menciptakan produk, layanan, dan budaya yang membawa dampak sosial dan lingkungan yang positif. Maka, muncullah era human-centric marketing atau Marketing 3.0. Perusahaan mulai menanamkan praktik pemasaran yang etis dan bertanggung jawab secara sosial ke dalam model bisnis.

Marketing 4.0: Dari Tradisional ke Digital

Digitalisasi semakin melengkapi tren menuju sentrisitas manusia. Generasi Y — dan sampai batas tertentu, Generasi Z — mengarah ke ekonomi digital. Munculnya Internet seluler, media sosial, dan e-commerce mengubah jalur pelanggan untuk membeli. Pemasar beradaptasi dengan perubahan ini dengan mengkomunikasikan dan memberikan produk dan layanan melalui kehadiran omnichannel. Mereka mulai beralih dari tradisional ke digital dan menerapkan Marketing 4.0.

Marketing 5.0 : Teknologi untuk Kemanusiaan

Dengan munculnya Generasi Z dan Generasi Alfa, sekarang saatnya pemasaran berkembang sekali lagi. Minat dan perhatian utama dari dua generasi termuda ini mengarah ke dua arah. Pertama, membawa perubahan positif bagi kemanusiaan dan meningkatkan kualitas hidup manusia. Yang kedua adalah untuk mendorong kemajuan teknologi lebih jauh di semua aspek kemanusiaan. Untuk melayani Generasi Z dan Generasi Alfa, pemasar perlu terus mengadopsi teknologi berikutnya untuk meningkatkan kehidupan manusia. Dengan kata lain, Marketing 5.0 akan menjadi integrasi antara Marketing 3.0 (human centricity) dan Marketing 4.0 (technology enabler).

Dalam dekade berikutnya, Generasi X akan memegang hampir semua posisi kepemimpinan di dunia pemasaran. Sebagai pemasar, mereka adalah satu-satunya generasi yang telah menerapkan Pemasaran 1.0, Pemasaran 2.0, Pemasaran 3.0, dan Pemasaran 4.0 di berbagai tahap kehidupan mereka. Didukung oleh manajer menengah dari Generasi Y, Generasi X akan menjadi ujung tombak inisiatif pemasaran perusahaan untuk melayani Generasi Z dan Generasi Alfa. Kedua generasi termuda ini akan menjadi katalisator untuk Marketing 5.0, yang merupakan integrasi antara Marketing 3.0 dan Marketing 4.0. Mereka memiliki perhatian besar tentang bagaimana teknologi dapat memberdayakan dan meningkatkan kemanusiaan: meningkatkan kehidupan manusia dan menciptakan kebahagiaan. Perusahaan yang bisa mendapatkan kepercayaan dari Generasi Z dan Generasi Alpha akan mampu memenangkan persaingan di era Marketing 5.0.

Sumber :
Philip Kothler, Hermawan Kertajaya, Iwan Setiawan. Marketing 5.0: Technology For Humanity. Canada : John willey & Sons,inc. 2021

Photo by Campaign Creators on Unsplash

Comment here