Riset

Jenis Endorser Dan Nama Merk Yang Disukai Oleh Konsumen (Bagian 3- Nama Merk)

Spread the love

Kali ini kita akan mengupas tiga variabel yaitu Nama Merk yang disukai oleh konsumen, sikap, Niat Beli dan variable moderator involvement dalam artikel ini, bagi anda yang belum membaca artikel sebelumnya maka anda wajib membaca silahkan klik  tulisan dibawah ini untuk membaca ulasan sebelumnya pada riset ini

Jenis Endorser Dan Nama Merk Yang Disukai Oleh Konsumen (Bagian 2- Endorser)

Merk

Menurut Philip Kotler, Merek adalah nama, istilah, tanda, symbol atau disain atau kombinasi dari semuanya yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa seseorang atau kelompok penjual untuk membedakannya dari barang atau jasa pesaing. Merek merupakan hal yang sangat penting, baik bagi konsumen maupun produsen. Dari sisi konsumen, merek mempermudah pembelian. Bila tidak ada merek, konsumen harus mengevaluasi semua produk yang tidak memiliki merek setiap kali mereka akan melakukan pembelian. Pemberian nama merek membantu pembeli dalam beberapa hal antara lain, membantu pembeli untuk mengidentifikasi produk yang mungkin menguntungkan merek, merek juga menyampaikan beberapa hal mengenai kualitas produk kepada pembeli. Pembeli selalu membeli produk dengan merek yang sama. Pemberian nama merek dapat begitu berkesan sehingga saat ini banyak perusahaan yang menggunakan nama merek berbahasa asing (Foreign Branding). Konsumen memandang merek sebagai bagian penting dari produk, dan foreign branding dapat menambah nilai suatu produk. Definisi dari pemberian nama merek bahasa asing adalah Foreign Branding is an advertising and marketing term describing the implied cachet or superiority of domestic products with a foreign or foreign sounding name. Arti dari pengertian diatas adalah  Foreign branding dalam istilah pemasaran adalah hubungan periklanan dan pemasaran yang menggambarkan superioritas (keunggulan) produk domestic dengan bahasa asing. Menurut Lecrec (1994) Foreign Branding merupakan strategi pemberian nama merek dengan pengejaan atau pengucapan dalam bahasa asing tertentu, dengan target utama untuk mempengaruhi dimensi citra merek dan ekuitas merek tersebut. Penggunaan foreign branding bertujuan untuk mempengaruhi citra merek. Di Indonesia banyak produk yang juga menggunakan nama merek bahasa asing yang tujuannya untuk meningkatkan reputasi seperti  J.CO donut, NEVADA, dan lainnya , hal tersebut dilakukan agar produk mendapatkan citra yang baik sehingga mampu bersaing di pasar domestik.

Keterlibatan ( Involvement )

Menurut Peter and Olson, (2002) Tingkat keterlibatan (involvement) adalah persepsi konsumen terhadap suatu obyek yang dianggap mempunyai kesesuaian dengan kebutuhan, tujuan dan yang dimiliki value nya. Keterlibatan seseorang dengan suatu obyek merupakan kondisi psikologis yang dirasakan konsumen pada waktu dan kondisi tertentu. Besar kecilnya tingkat keterlibatan konsumen mempengaruhi besarnya usaha kognitif yang dikerahkan konsumen untuk memperhatikan dan memahami informasi mengenai suatu obyek. Bila konsumen menganggap suatu obyek sesuai dengan tujuan dan kebutuhannya maka akan mempunyai keterlibatan tinggi dengan obyek tersebut. Sebaliknya, bila konsumen menganggap suatu obyek kurang sesuai dengan tujuan dan kebutuhannya maka konsumen tersebut merasakan keterlibatan yang rendah dengan produk tersebut. Ada dua faktor yang mempengaruhi tingkat keterlibatan konsumen yaitu pengaruh situasional dan individual. Menurut Peter dan Olson (2002) pengaruh situasional ditentukan oleh kondisi lingkungan sosial dan fisik yang memberikan konsekuensi dan value, sehingga suatu produk dianggap mempunyai relevansi, misalnya seseorang yang mempunyai tujuan untuk hemat di dalam belanja, maka orang tersebut akan tertarik dengan suatu produk di sebuat toko atau marketplace yang menawarkan discount, karena harga yang didiscount tersebut sesuai dengan tujuannya untuk hemat. Keterlibatan yang dipengaruhi situasional ini bersifat sementara (temporary.
Sebaliknya, bila keterlibatan terhadap suatu obyek dipengaruhi oleh karakteristik individu maka bersifat lebih persisten. Persistensi ini disebabkan karena keterlibatan seseorang didasarkan pada pengalaman masa lalu dan pengetahuan yang tersimpan di dalam memori. Setelah mengkonsumsi produk, konsumen mempelajari bahwa produk tersebut memliki atribut yang sesuai dengan kebutuhan dan valuenya. Bila konsumen merasakan kesesuaian antara dirinya dengan suatu obyek maka konsumen tersebut akan termotivasi untuk meningkatkan perhatian dan berusaha memahami semua informasi yang mempunyai relevansi dengan obyek.

Sikap

Shimp (1990:94) menyatakan bahwa sikap merupakan perasaan positif atau negatif serta evaluasi internal terhadap suatu obyek yang merupakan hasil dari proses pembelajaran serta mempunyai sifat persisten dan akan mengarahkan seseorang kepada perilaku yang spesifik. Dalam kaitannya dengan sikap yang terdapat dalam konsumen,. Peter dan Olson (2002:134) menjelaskan bahwa sikap konsumen terhadap produk terbentuk dari gabungan seluruh pengetahuan konsumen tentang produk yang bersangkutan. Terdapat dua orientasi dalam pembentukan sikap, Pertama, para ahli menyatakan bahwa sikap terdiri dari 3 komponen, yaitu afektif, kognitif dan konatif. Kedua, sikap bersifat unidimensioiial yang hanya terdiri dari aspek afektif.
Hawkins, Best dan Coney (2010) menyatakan bahwa sikap terdiri dari tiga komponen, yaitu komponen kognitif, afektif dan konatif. Komponen kognitif berhubungan dengan pengetahuan dan kepercayaan konsumen terhadap sebuah obyek. Komponen afektif menyangkut aspek yang lebih mendalam lagi, yaitu aspek perasaan atau reaksi emosional tentang obyek tersebut. Komponen konatif menyangkut kecenderungan seseorang atau konsumen dalam menanggapi sebuah obyek dengan cara tertentu.

Sikap Atas Iklan

Price, Amould, dan Zinkhan (2005) mendefinisikan sikap atas iklan sebagai rasa suka atau tidak suka seseorang terhadap suatu iklan tertentu. Setelah menerima stimulus dari iklan, individu akan cenderung memberikan tanggapan bagaimana individu tersebut dapat bersikap terhadap iklan. Sementara itu Mackenzie dan Lutz (1989) memberikan definisi yang senada mengenai sikap atas iklan : “…attitude toward advertising is defined as a learned predisposition to respond in a consistently favorable or unfavorable manner toward advertising in general… “.
Mowen (1995) mengungkapkan bahwa.”… an attitude toward advertising is a counsumer’s general or disliking for a particular advertising stimulus during a particular advertising exposure …”.
Semua definisi ini merujuk pada suatu kesimpulan bahwa sikap atas iklan merupakan evaluasi seseorang terhadap obyek yang berupa iklan, perasaan individu akan rasa suka atau tidak suka yang terdapat pada dirinya terhadap suatu iklan. Beberapa faktor yang menentukan sikap atas iklan dari konsumen antara lain pihak atau perusahaan yang beriklan, evaluasi terhadap iklan itu sendiri, suasana hati (mood) yang ditimbulkan oleh iklan tersebut, serta seberapa besar iklan tersebut dapat mempengaruhi konsumen untuk dapat mengingat kembali iklan tersebut. Secara umum telah diakui bahwa iklan dapat menstimulasi emosi positif

Sikap Atas Merk

Sikap terhadap merk merupakan salah satu konsep sikap seseorang terhadap obyek yang ditemukan, dalam hal ini adalah merk suatu produk. Pengertian tentang sikap atas merek dikemukakan oleh Henry Assael (1995:266) adalah bahwa “…attitude towards brands are consumers learned tendencies to evaluate brands in a consistenly favorable or unfavorable way that is consumers evaluation of a particular brand on an overall basis from poor to excellent…”
Pengertian diatas mengandung makna bahwa sikap atas merek merupakan suatu proses pembelajaran konsumen terhadap merek untuk mengevaluasi merek sehingga akan membentuk suatu pilihan apakah merek tersebut dianggap baik atau tidak baik.

Niat Pembelian

Pengertian tentang niat beli didefinisikan oleh Howard (1989:35) yaitu : “…intention to buy is defined as a mental state that reflect the buyer’s plan to buy some specified number of units of a particular brand in some specified time period…” Niat beli merupakan penyataan mental dari seseorang pembeli yang merefleksikan rencananya untuk melakukan pembelian terhadap sejumlah produk dari suatu merek pada waktu tertentu. Definisi yang senada juga dikemukakan oleh Rossiter dan Lany Percy (1987:155) sebagai “… brand purchase intention is the buyer’s self instruction to purchase the brand or to take other relevant purchase related action… ” Definisi ini mengandung arti bahwa niat pembelian merupakan perintah dari seorang pembeli terhadap dirinya sendiri untuk mengambil atau melakukan tindakan pembelian terhadap merek tertentu atau melakukan hal lain yang berhubungan dengan pembelian tersebut. Niat beli merupakan variabel intervening antara sikap dan perilaku (Assael 1995,). Pemasar menggunakan niat beli konsumen untuk mengevaluasi altematif dari konsep produk baru serta tema untuk periklanan. Niat beli merupakan peramalan atau prediktor yang baik bagi perilaku pembelian.

sumber : freepik ‘Brand’

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa iklan dengan nama merk dari luar negeri lebih disukai konsumen daripada iklan dengan nama merk dalam negeri hal tersebut merupakan saran bagi pemasar untuk digunakan dalam periklanan.

ARTIKEL LENGKAP DAPAT DILIHAT DISINI (KLIK TULISAN INI)

Selanjutnya  Jenis Endorser Dan Nama Merk Yang Disukai Oleh Konsumen (Bagian 4- Metodologi)

Comment here