Manajemen PemasaranRiset

Opponent Process Theory

https://images.slideplayer.com/21/6236645/slides/slide_2.jpg
Spread the love

Kesuksesan sebuah perusahaan bukan hanya terletak pada seberapa besar keuntungan yang diperoleh dari hasil penjualan produk / jasa. Tetapi juga berdasar pada seberapa tinggi tingkat kepuasan karyawan pada perusahaan tersebut. Mengapa demikian ? Beberapa jurnal penelitian mengungkapkan bahwa kepuasan kerja karyawan memberikan pengaruh positif kepada kinerja. Di mana kepuasan kerja yang tinggi akan meningkatkan produktivitas kinerja dan dapat mengurangi stress kerja dan beberapa manfaat lain. 

Baca Juga : Contrast Theory

Kepuasan kerja merupakan sesuatu yang sifatnya individual, sehingga  tingkat kepuasan akan berbeda-beda satu sama lain. Salah satu teori yang mendasari kepuasan kerja adalah opponent process theory atau teori proses bertentangan. 

Opponent Process Theory: Apa Itu?

Opponent Process Theory atau Teori Proses Bertentangan merupakan sebuah teori tentang kepuasan kerja yang dikembangkan oleh Landy. Landy berpandangan bahwa kepuasan kerja merupakan perspektif yang berbeda secara mendasar dari pendekatan teori lainnya. Teori proses bertentangan menekankan pada keinginan individu untuk mempertahankan keseimbangan emosionalnya (emotional equilibrium)

Baca Juga : Cognitive Dissonance Theory

Menurut Opponent Process Theory, perasaan puas atau tidak puas yang dirasakan individu ditentukan oleh sejauh mana penghayatan emosional mereka pada situasi yang sedang dihadapi. Menurut teori ini, kepuasan dan ketidakpuasan kerja dapat memicu sistem saraf pusat yang membuat emosi bertentangan. 

Seseorang dapat merasa puas ketika mendapatkan reward dari perusahaan, dalam satu waktu juga dapat merasakan sedikit ketidakpuasan. Setelah beberapa saat, perasaan senang akan menghilang, bahkan ada beberapa kasus yang berganti menjadi perasaan sedih sebelum akhirnya kembali normal. 

Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa seorang karyawan akan merasa puas apabila kondisi yang diinginkan sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapi. Misalnya gaji, sulit atau tidak pekerjaan mereka, sikap atasan, rekan kerja dan lainnya. Jika terjadi ketidakseimbangan emosi maka dia akan merasa tidak puas. 

Baca Juga : Adaptation Level Theory

Pengertian Kepuasan Kerja Menurut Beberapa Ahli 

Untuk memahami lebih jauh tentang kepuasan karyawan, pahami maknanya terlebih dahulu. Berikut pengertian kepuasan kerja menurut beberapa ahli, antara lain :

  • Menurut Stephen Robbins (2003),  Kepuasan kerja merupakan istilah yang merujuk pada sikap individu terhadap pekerjaan yang dia lakukan.  Apabila tingkat kepuasan kerja tinggi maka akan menunjukkan sikap  positif. Begitu pun sebaliknya,  ketidakpuasan akan memunculkan sikap negatif.  
  • Menurut S.P Hasibuan (2006), kepuasan kerja merupakan sikap emosional yang mencintai pekerjaan. Sikap tersebut terlihat dari moral kerja, prestasi, hingga kedisiplinan karyawan. 
  • Menurut Marihot Tua Efendi (2002), kepuasan kerja diartikan sebagai perasaan positif dan negatif karena beberapa faktor dari tugas-tugas yang terdapat di dalam pekerjaannya. 
  • Sementara Cherington (1987) berpendapat bahwa kepuasan kerja secara umum akan merujuk pada tingkatan seberapa besar karyawan menyukai pekerjaannya aau tidak. 
  • Veithzal Rivai (2004) mengartikan kepuasan kerja sebagai hasil evaluasi yang menggambarkan perasaan seseorang apakah senang atau tidak puas di dalam bekerja. 
  • Gibson Ivanicevic Donelly (1985) mengatakan bahwa kepuasan kerja tergantung pada hasil intrinsik, ekstrinsik dan persepsi individu pada pekerjaannya. Sehingga kepuasan kerja berhubungan dengan perasaan positif atau negatif dari berbagai sisi, misalnya pekerjaan, tempat kerja hingga hubungan dengan rekan kerja. 

Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja

Menurut Ashar Sunyoto Munandar (2001) ada beberapa faktor yang menunjang tingkat kepuasan kerja karyawan. Sedangkan menurut Stephen Robbins (2010) menyebutkan beberapa faktor dalam kepuasan kerja antara lain :

1. Pekerjaan yang menantang 

Secara umum, karyawan akan menyukai pekerjaan yang memberi tantangan, sehingga mereka mempunyai kesempatan untuk menggunakan kemampuan atau skill. Namun terkadang, pekerjaan yang terlalu menantang dapat menimbulkan perasaan frustasi dan takut jika gagal. 

2. Equitable reward 

Tidak menampik, karyawan akan menginginkan sistem gaji yang sebanding dengan pekerjaan mereka. Mereka akan merasa puas jika gaji yang diterima sesuai dengan apa yang mereka kerjakan. Pada dasarnya sistem upah bukan tergantung pada nominal mutlak yang dibayarkan, melainkan pada persepsi akan keadilan. 

3. Kondisi pekerjaan yang mendukung. 

Karyawan akan selalu memedulikan suasana lingkungan kerja, apakah nyaman atau tidak. Karyawan akan merasa nyaman jika cahaya, suhu atau kebisingan di kantor tidak terlalu ekstrim dan mengganggu. 

4. Rekan kerja

Bekerja merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan akan interaksi sosial dengan orang lain. Tidaklah heran apabila sebagian orang menjadikan rekan kerja sebagai alasan bertahan di dalam pekerjaan tertentu. Perilaku atasan juga menjadi determinan dari kepuasan karyawan. Apabila atasan ramah, menerima dan menawarkan pujian kinerja yang baik dapat memunculkan perasaan puas. 

Baca Juga : Teori Dual Credibility Model

Kesimpulan

Tingkat kepuasan kerja seseorang di dalam suatu perusahaan tidaklah sama. Tergantung pada persepsi emosional karyawan tersebut dalam membuat penilaian secara keseluruhan tentang suatu pekerjaan. 

Menurut opponent process theory, keseimbangan perasaan puas dan tidak puas tetap akan dipertahankan ada di dalam diri individu. Di mana persepsi positif yang muncul  di awal waktu lambat laun akan menurun dan berganti menjadi persepsi negatif.  Sehingga muncul  perasaan ketidakpuasan pada karyawan. Hal ini menjelaskan betapa pentingnya survei kepuasan kerja dilakukan secara berkala agar persepsi positif karyawan tetap terjaga.

Demikian informasi terkait Opponent Process Theory yang dikaitkan dengan kepuasan kerja pada karyawan.   

Comment here