Motivasi Hari Ini

OPTIMIS SAAT PESIMIS

Spread the love

أنا عند ظن عبدي بي إن ظن بي خيرا فله وإن ظن شرا فله

“Aku (Allah) tergantung dugaan hamba-Ku. Jika ia berbaik sangka kepada-Ku, maka Aku limpahkan untuknya kebaikan. Dan jika ia berburuk sangka kepada Ku, maka keburukan akan Aku berikan kepadanya.” (HR. Ahmad [9076] dari Abu Hurairah ra)

Tatkala hampir seluruh sahabat meninggalkan Makkah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beberapa sahabat lainnya masih menjejakkan kaki di kota itu. Salah satu di antara mereka adalah Abu Bakar as Shiddiq 1.a. Ayah Aisyah tersebut belum beranjak ke Madinah karena berharap bisa menjadi teman hijrah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sedangkan kaum kafir Quraisy semakin geram dan berencana membunuh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat mengetahui mayoritas umat Islam hijrah ke Madinah. Menurut mereka, jika dakwah Islam sukses di Madinah, maka perdagangan kaum Quraisy terancam bubar, karena Madinah merupakan kota lalu lalang para pedagang Quraisy ke negeri Syam.

Pada suatu malam yang sudah direncanakan, Abu Jahal beserta sekelompok pemuda kafir Quraisy mengepung rumah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Masing-masing datang dengan menggenggam sebilah pedang runcing nan tajam. Namun Sang Maha Kuasa tidak membiarkan kekasih-Nya tergores luka. Dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar rumah dengan selamat.

Kemudian beliau menuju rumah Abu Bakar dan mengajaknya untuk hijrah. Mereka berdua bermalam di sebuah gua bernama Tsur.. Saat matahari menyapa pagi, tiba-tiba kaki para pemuda kafir Quraisy sudah berada di mulut gua. Mereka mengikuti jejak langkah dua insan yang mulia itu. Abu Bakar gemetar, dengan segala rasa gelisah, ia mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Wahai Rasul, jika mereka melihat ke ujung kaki mereka, niscaya mereka akan menemukan kita.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang menangkap kekhawatiran dari raut wajah Abu Bakar r.a., berusaha menenangkannya, “Wahai Abu Bakar, tidakkah kau berpikir bahwa ketika kita berdua seperti ini, sesungguhnya ada yang ketiga bersama kita, yaitu Allah. Janganlah bersedih, Allah bersama kita.”

Wajah Keshalihan Yang Menipu

Sikap tawakal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membuahkan hasil. Sekelompok bersenjata yang siap membunuh itu tak berpikir bahwa di dalam gua terdapat dua orang yang selama ini mereka incar. Allah menyela matkan Rasulullah dan Abu Bakar dengan menumbuhkan tanaman yang sebelumnya tidak ada, membuat jaring laba-laba yang menutupi mulut gua sehingga keduanya bisa meneruskan perjalanan ke Madinah.

Dari kisah di atas, saya ingin mengajak para pembaca untuk memiliki prasangka baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah Zat Yang Maha Mengetahui dan Melihat. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan membiarkan hamba Nya dalam kesusahan tanpa memberikan kebahagiaan dan kesenangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mungkin menguji seorang hamba tanpa memberikan solusi dan meninggikan kedudukannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan selalu hadir dalam setiap doa dan panggilan yang menyeru-Nya. Dalam sebuah hadis Qudsi, Allah berfirman,

من يدعوني فأستجيب له من يسألني فأعطيه من يستغفرني فأغفر

“Siapa pun yang memanggil-Ku (berdoa kepada-Ku), pasti akan Aku penuhi/kabulkan. Siapa pun yang meminta, pasti akan Aku beri. Dan siapa pun yang memohon ampunan Ku, pasti akan Aku ampuni,” (HR. Bukhari [1145] dari Abu Hurairah r.a).

Hadis Qudsi tersebut menyadarkan kita, bahwa saat kesusahan menerpa dan tidak ada satu pun yang bisa menolong kita, masih ada satu nama yang bisa kita sebut yaitu Allah. Jika keluarga, saudara, tetangga, dan kawan tidak bisa membantu memecahkan problematika yang kita hadapi, masih ada satu nama yang bisa kita harapkan dan andalkan yaitu Allah. Sebab sejatinya Allah sangat dekat dengan diri kita.

ولقد خلقنا الإنسان وتعلم ما توسوس به نفسه ونحن أقرب إليه من حبل الوريد

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,” (QS. Qaf: 16).

Berbaik sangka kepada Allah merupakan sebuah keniscayaan bagi seorang mukmin. Apapun yang ditakdirkan untuk kita, pasti itulah yang terbaik. Terkadang Allah memberikan sesuatu yang tidak kita sukai, namun justru itulah yang terbaik untuk kita. Bahkan hal-hal yang menyenangkan pun belum tentu baik untuk masa depan kita.

Kebaikan Yang Melalaikan

Nabi Musa berhasil selamat dari kejaran Firaun dan tentaranya dengan menyeberangi lautan yang terbelah. Nabi Ibrahim tidak mempan dibakar dengan kobaran api besar yang dinyalakan Namrud. Nabi Isa dapat meloloskan diri dari amukan kaumnya yang hendak membunuh dan menyalibnya. Mengapa semua ini terjadi? Karena mereka memiliki keyakinan kuat, bahwa Allah tidak akan membiar kan hamba-Nya yang baik sendirian dalam menghadapi cobaan. Mereka meyakini, Allah pasti menolong hamba hamba-Nya yang berbaik sangka kepada-Nya.

Contoh di kehidupan kita, ada seorang siswi SD di Jawa Tengah bernama Getun. Ia tidak memiliki lengan. Kemana pun pergi, ia selalu membutuhkan uluran tangan ibunya. Meskipun dalam kondisi yang terbatas, Getun piawai memainkan piano dengan kakinya. Dari prestasi musik itulah, ia bisa membawa ibunya keliling Indonesia menemaninya tampil di atas panggung. Sang ibu pernah bercerita, “Putri saya ini bercita-cita memberangkatkan saya dan ayahnya ke Tanah Suci.” Inilah rahasia Allah di balik takdir-Nya yang mungkin tidak memihak kepada keluarga Getun. Justru ia dengan kekurangan fisiknya, bisa menerbangkan kedua orang tuanya keliling Indonesia bahkan ke Makkah. Sedangkan teman-teman sekelasnya yang memiliki anggota badan lengkap, mereka belum bisa mengantar orang tuanya ke luar pulau atau luar negeri seperti Getun.

Mulanya sang Ibu sedih dan menyesal memiliki anak tak berlengan, ia pun memberi nama anaknya dengan Getun (dalam Bahasa Jawa berarti menyesal). Namun dengan seiring waktu berjalan, sang Ibu sadar bahwa keputusan Allah adalah yang terbaik, ia selalu berpra sangka baik kepada Allah. Beberapa tahun kemudian, sang Ibu merasakan hasil dari husnuzannya, sang anak bisa membawanya berkeliling Indonesia hingga bisa mencium udara Makkah dan Madinah.

Riyadloh Kyai

Cerita Getun tersebut mengilhami kita, bahwa masa depan tergantung dengan persepsi kita kepada Allah. Muslim ideal adalah Muslim yang berusaha optimis di saat keadaan terpuruk dan pesimis. Jika kita berbaik sangka kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kita yang terbaik, sesuai dengan firman Allah dalam hadis Qudsi,

“Aku (Allah) tergantung dugaan hamba-Ku. Jika ia berbaik sangka kepada-Ku, maka Aku limpahkan untuknya kebaikan. Dan jika ia berburuk sangka kepada-Ku, maka keburukan akan Aku berikan kepadanya,” (HR. Ahmad [9076] dari Abu Hurairah r.a)

Sumber : Semerbak Senyum Nabi – A. Ainul Yaqin

Comment here