Motivasi Hari Ini

Wajah Keshalihan Yang Menipu

Spread the love

“One thing you can’t hide is when you’re crippled inside. Satu hal yang tidak dapat kamu sembunyikan adalah ketika kamu lumpuh di dalam” (John Lennon).

Apa yang seharusnya kita khawatirkan di dunia ini? Yaitu hal hal baik yang belum kita kerjakan, masih banyak sunnah Rasul-Nya yang belum kita lakukan, dan masih ada kemaksiatan yang diam-diam kita perbuat Lalu, dengan mudahnya kita mengatakan, “Ya Allah, kenapa doaku belum Engkau kabulkan?” Astaghfirullah. Betapa banyak tuntutan kita kepada Allah, sedangkan sedikit sekali amal shalih yang kita kerjakan.

Itulah ciri pertama dari wajah keshalihan yang menipu, ialah banyak menuntut kepada-Nya, tetapi masih melalaikan kewajiban. Ini tentunya untuk menilai diri kita sendiri, ya, bukan untuk menghakimi orang lain. Sebab, atas kondisi tersebut, tentu diri kita sendirilah yang paling tahu Maka, satu-satunya jalan ialah jujur mengakui bila kondisi kita memang masih seperti itu. Kemudian kita bergegas untuk beristighfar sebanyak banyaknya. Bahkan, kita bisa shalat taubat memohon ampun kepada Alloh. Kenapa kita harus bergegas mengakui dan mengistighfarinya? Sebah seburuk apa pun diri kita di masa lalu dan saat ini, percayalah bila nantinya kondisi kita bisa jauh lebih buruk lagi. Sebelum semuanya terlambat, bertaubat adalah jalan terbaik untuk mengakhirinya Supaya dada kita lebih lapang.

Jangan sampai kita mengatakan, “Aku ini sudah buruk, ya.. buruk saja selamanya. Dan jangan pula kita terlampau percaya diri dengan mengatakan, “Aku ini sudah alim dan shalih/shalihah sekali. Sebab, setiap hari kita selalu berada dalam dua keadaan ini, mudah tergelincir ke lubang kemaksiatan dan masih berjuang mendapatkan hidayah. Buktinya, dalam shalat pun kita masih mengulang-ulang doa. “Ihdinash shratha mustaqim Ya Allah tunjuklah kami jalan yang lurus

Riyadloh Kyai

Kedua, berusaha keras menutupi aib sendiri dan selalu ingin tampak mempesona di depan orang lain. Tandanya ialah kita begitu cuek bemaksiat saat sendirian, tetapi berlagak taat ketika bersama orang lain. Lalu kita berkata sopan santun, dan lembut kepada orang lain, tetapi sangat kasar dan suka menyakiti keluarga sendiri (di dalam rumah). Jadi apa yang tampak dari luar tidak seindah kondisi di dalamnya. Apa yang terlihat harmonis dari luar, sebenarnya amburadul di dalamnya. Maaf perumpamaan yang paling kasar adalah tampan / cantik di luar, busuk di dalam.

Memang kita harus menyembunyikan aib diri sendiri, itu sesuatu yang wajar. Namun, apakah nyaman hidup seperti itu? Mau sampai kapan kita hidup dengan menyimpan kebusukan tersebut? Bukankah ada peribahasa sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Kemudian pepatah itu berubah menjadi: sepandai-pandai kita menyembunyikan ikan asin, akhirnya tercium juga baunya

Ada sebuah kisah nyata, seorang anggota dewan kaget ketika melihat sebuah cek bernilai puluhan juta ada di dalam laci meja kerjanya. Beliau pun bertanya kepada rekan kerjanya. “Kamu tahu ini dari mana?” Tanpa banyak penjelasan, si teman kerjanya hanya menjawab, Terima saja”. Beliau membiarkan saja cek itu tetap di dalam laci. Beberapa hari kemudian, beliau menemukan segepok uang di dalam lacinya-di atas cek tadi. “Ini dari mana lagi?” tanyanya kepada rekan kerjanya. Jawaban rekannya pun masih sama, “Terima saja.”

“Tidak akan pernah ada rasa nyaman di hati kalau kita hidup dengan dua muka, alias bertopeng kemunafikan.”

Beliau masih membiarkan cek dan uang tunai itu tetap berada di laci. Ternyata, itu belum berakhir. Besoknya, ada lagi segepok uang di laci meja kerjanya Kepala beliau mulai menunduk sedih. Ketika perjalanan pulang beliau merenung di dalam mobilnya. Bagaimana bisa aku hidup tampak bersih dan berwibawa jika nyatanya aku menerima uang yang tidak jelas seperti itu, batinnya mulai memberontak. Sampai-sampai beliau tidak bisa tidur beberapa hari. Hingga si istrinya mengatakan, “Sebaiknya Abang segera memutuskan, agar hati dan pikiran Abang tidak gelisah seperti ini.

Kebaikan Yang Melalaikan

Benar saja, akhirnya beliau membuat keputusan, dan keputusan ini membuat rekan-rekannya kaget bukan main. Beliau memilih untuk mengundurkan diri dari kursi dewan tersebut dengan alasan kesehatan Lembaran cek dan uang tersebut pun ditinggal di laci mejanya. Padahal, orang lain banyak yang mengincar dan mengejar kursi tersebut, tetapi demi menjaga diri dan mengikuti kata hatinya, beliau tetap memutuskan untuk resign!

 

Sumber : Lillah sebelum lelah – Dwi Suwiknyo

 

Comment here